Kamis, 19 September 2013

BANK BUDGETING Bab I Pendahuluan



A.    Gambaran Umum Dari Anggaran
Anggaran sangat bermanfaat untuk mensinergikan seluruh sumber dana dan daya yang ada dalam suatu bank dalam untuk mencapai tujuannya.

a)      Pengertian Anggaran
Anggaran yaitu suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan  perusahaan yang dinyatakan dalam unit kesatuan moneter yang berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu  perusahaan yang dinyatakan dalam unit kesatuan moneter yang berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.
Sedangkan menurut  Gunawan Adi Saputra, Mawan Asri, dalam bukunya Anggaran Perusahaan, edisi 2, 1988 memberi definisi anggaran perusahaan sebagai suatu pendekatan formal dan sistimatis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen di dalam perencanaan, koordinasi dan pengawasan. Beberapa inti dari definisi anggaran yang dapat dikemukakan di sini ada tiga hal antara lain:
Ø  Bersifat formal, artinya anggaran tersebut disusun dengan sengaja dan bersungguh-sungguh dalam bentuk tertulis.
Ø  Bersifat sistematis, artinya anggaran tersebut disusun dengan berurutan dan berdasarkan suatu logika.
Ø  Bahwa setiap saat manajer  dihadapkan pada suatu tanggung jawab untuk mengambil keputusan dalam rangka pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen.

b)      Anggaran Bank
Pada dasarnya tidak ada perbedaaan filosofi antara anggaran untuk perusahaan industry manufacturing dengan industry perbankan. Dalam penyusunan anggaran bank ini akan dihadapi berbagai kesulitan terutama dikarenakan produk dari perbankan yang bersifat abstrak, seperti halnya pada perusahaan-perusahaan jasa lainnya. Kesulitan yang kedua yaitu menyangkut adanya nilai mata uang (purchasing power), kurs berbagai mata uang asing yang cepat berubah. Akibat dari dua hal ini akan menimbulkan tolak ukur atau standard of performance.
Kesulitan lain yang memerlukan perhatian khusus dalam penyusunan anggaran yaitu masalah besarnya alat likuid yang dimiliki oleh industry perbankan,, yang sekaligus memiliki dua fungsi yaitu sebagai alat likuid dan dilain pihak sebagai barang yang diperdagangkan. Hal ini selalu menimbulkan dilema antara likuiditas dan rentabilitas. Semakin tinggi tingkat likuiditas, tingkat rentabilitas akan terancam karena banyaknya idle fund dan sebaliknya.

c)      Manfaat Anggaran
Manfaat dari anggaran dapat diuraikan sebagai berikut :
-        Dengan adanya anggaran maka sasaran usaha yang dicapai bank yang bersangkutan untuk suatu jangka waktu tertentu akan menjadi jelas, baik dalam kualitas maupun dalam nilai rupiahnya. Masing-masing tingkat  manajemen akan mengetahui dengan jelas target usahanya yang akan dicapai.
-        Secara tidak langsung dengan disusunnya anggaran akan mengakibatkan perbaikan dari organisasi bank yang bersangkutan.
-        Dengan adanya anggaran akan mendorong terjadinya profesionalisme dan perbaikan “managerial skill” dari setiap personil anggota organisasi.
-        Dengan adanya anggaran tersebut akan tersedia bagi manajemen bank yang bersangkutan suatu alat koordinasi dan pengawasan, yang akan sangat berguna untuk mengendalikan kegiatan dan usahanya di dalam mencapai sasaran seperti yang telah ditetapkan dalam rencana.
-        Anggaran bermanfaat untuk perbaikan kemampuan bank dalam memberikan jasa-jasa kepada para nasabahnya.
-        Memberikan kesempatan bagi bank dalam meningkatkan profitability dari bank yang bersangkutan.
-        Dengan adanya anggaran, bank juga mempunyai kemampuan untuk mengadakan reaksi yang lebih baik dalam menghadapi perkembangan usaha yang diluar dugaan.

d)     Konsep Anggaran
Ditinjau dari sudut fungsi manajemen perbankan maka anggaran tersebut harus pula dapat memberikan tuntunan terhadap pelaksanaan masing-masing pihak pelaksana terhadap pelaksanaan fungsi manajemen, yang meliputi fungsi pelaksanaan, fungsi organizing, fungsi staffing, fungsi directing (actuating) sampai akhirnya fungsi controlling.
Agar konsepsi budget sebagai alat profit planning dan control ini dapat berhasil dan memuaskan, maka dalam proses penyusunan anggaran tersebut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Perlu adanya keikutsertaan dari semua tingkat manajemen baik top manajer, middle manajemen maupun lower manajemen.
2.      Adanya struktur organisasi yang menetapkan masing-masing fungsi yang ada dengan jelas akan menggambarkan adanya Line of Authorities and Responsibilities dari para fungsionaris tersebut.
3.      Perlu adanya system informasi yang baik.
4.      Organisasi anggaran harus didukung oleh biaya, tenaga peralatan-peralatan, brainware, software yang memadai.
5.      Anggaran yang disusun berdasarkan kemampuan diri dan peluang-peluang yang dapat dijangkau secara normal.
6.      Harus adanya tindaklanjut yang terus menerus di dalam pelaksanaan anggaran.

e)      Bentuk-bentuk Anggaran
1.      Ditinjau dari ruang lingkup anggaran maka anggaran suatu bank akan dapat dibedakan dalam 2 bentuk yaitu:
a.       Comprehensive budget
Merupakan suatu anggaran yang lengkap dan detailed atas seluruh aspak kegiatan usaha suatu  bank.
b.      Specific budget atau partial budget
Merupakan bagian dari comprehensive budget yang membahas salah satu aspek kegiatan yang ada dalam bank yang bersangkutan. Sebagai missal anggaran pendapatan biaya, anggaran dana dan seterusnya.
2.      Ditinjau dari jangka waktu anggaran
Orang mendirikan suatu bank tertentu dengan harapan bank tersebut akan bersiri untuk jangka waktu yang tak terbatas, dan para pendiri bank akan berharap bahwa banknya akan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Atau disisi lain para pendiri bank sering mengharapkan sasaran atau tujuannyatersebut akan memekan beberapa tahun, dan tidak mungkin disusun dalam jangka satu tahun saja.
Oleh karena itu untuk memanifestasikan rancangan tersebut dapatlah disusun anggaran untuk jangka panjang yang mencakup beberapa tahun angggaran. Anggaran seperti ini disebut Corporate Plan. Dan Corporate Plan masih diperinci dengan anggaran jangka pendek dalam jangka waktu satu tahunan yang disebut sebagai Annual Budget. Hubungan antara annual budget yang satu dengan annual budget yang lain akan merupakan program kerja yang berkesinambungan antara satu dengan yang lain yang dirangkum didalam suatu corporate plan.
3.      Ditinjau dari obyek anggaran
Di dalam anggaran itu sendiri ada 3 proses, yaitu proses penyusunan rencana kegiatan itu sendiri secara fisik dan proses pengkorvesian kegiatan fisik yang disajikan dalam bentuk kesatuan mata uang dan barulah disebut anggaran.
Jadi anggaran (rencana kerja) kegiatan yang masih berupa kegiatan fisik tersebut disebut sebagai operating budget, sedangkan bentuk anggaran yang sudah dinyatakan dalam kesatuan uang tersebut disebut sebagai financial budget.
4.      Ditinjau dari volume usaha
Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk biaya fisik organisasi dan overhead lainnya pada skala tertentu besarnya akan tetap, tidak peduli dengan naik turunnya volume yang diperoleh. Oleh karena anggaran untuk kegiatan yang stu ini disebut sebagai “ Fixed in Total but Variabel in Unit”. Secara keseluruhan fixed budget ini jumlahnya akan tetap. Akan tetapi kalau diukur dengan volume usaha yang dicapai per kesatuan usahanya akan mengalammi perubahan.
Dan sudah tentu lain halnya dengan anggaran untuk biaya-biaya variable itu sendiri, yang akan mengalami perubahan kenaikan ataupun penurunan sebesar volume usahanya itu sendiri. Anggaran untuk biaya anggaran ini kita sebut sebagai  Variable Budget.  Cirri dari variable budget ini tentu kebalikan dari fixed budget diatas, yaitu Fixed in Unit but Variable in Total”. Unit mempunyai nilai yang tetap dan secara keseluruhan akan berubah sesuai dengan besar kecilnya volume usaha itu sendiri.
5.      Ditinjau dari kewenangan penggunaan anggaran
Ditinjau dari sudut penggunaan (biaya) yang akan dikeluarkan oleh suatu bank maka anggaran tersebut merupakan petunjuk bagi pelaksana dalam melaksanakan pembayaran (Disbursement). Tetapi harus diakui pula bahwa kegiatan perbankan maupun kegiatan perekonomian adalah bersifat dinamis.  Sehingga keterkaitan terhadap anggaran teersebut akan mempunyai dua sifat yang berbeda, yaitu sebagai Appropriate Budget dan yang lainnya akan bersifat sebagai Performance Budget.    
Appropriate Budget ini akan memberikan batas dari pengeluaran yang boleh dilakukan.  Batas ini merupakan batas maksimum yang boleh dikeluarkan untuk suatu kegiatan tertentu.
Sedangkan bentuk Performance Budget adalah kebalikan dari Appropriate Budget. Pada Performance Budget ini perhatian kita pada fungsi dan kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilakukan, tidak mengenal batas maksimum yaitu sesuai dengan volume atau performance usaaha yang dicapai.
6.      Ditinjau dari kebijaksanaan manajemen
Berbicara perihal kebijaksanan perusahaan (Bussines Policy) ini mempunyai berbagai macam tingkatan. Sesuai dengan tingkat manajemen yang ada pada suatu bank.
Kebijaksanaan strategic merupakan wewenang dari Top manajemen dari suatu bank. Oleh karena itu bentuk anggarannyapun disebut sebagai Strategic budget. Sedangkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akan diambil oleh tingkat manajemen yang lebih rendah, akan berupa keputusan implementasi dan keputusan operasional dalam rangka pelaksanaan keputusan strategic diatas. Oleh karena itu kebijaksanaanyapun dapat disebut sebagai kebijaksanaan Taktis Implementatif maupun kebijaksanaan Taktis Operasionil.  Hingga untuk menampung rencana kegiatan taktis inipun akan dibentuk Tactical Budget.
7.      Ditinjau dari titik tolak penyusunan
Banyak cara yang dapat ditempuh di dalam penyusunan anggaran  salah satu diantaranya yaitu mendasarkan diri pada pengalaman tahun lalu, kemudian memproyeksikan beberapa volume usaha yang akan dicapai pada tahun yang akan datang.
Sehingga anggaran terbentuk dengan menggunakan realisasi tahun yang lalu ditambah atau dikurangi dengan jumlah atau volume usaha yang lalu ditambah atau dikurangi dengan jumlah atau volume usaha yang akan dicapai pada tahun berikutnya, cara ini disebut sebagai Incremental Budget.
Sedangkan cara lain yang saat ini banyak ditempuh oleh banyak perusahaan yaitu disebut: “Zero Base Budgeting”. Dalam cara ini titik tolak penyusunan anggaran tidak berdasarkan pada pengalaman yang lalu, tetapi memulai dengan titik nol (zero), kemudian memperkirakan beberapa volume usaha yang akan dicapai untuk waktu yang akan datang. Baru kemudian disusun anggarannya.

B.     Ruang Lingkup Anggaran Bank
Dalam proses industri manufacturing, kegiatannya meliputi pemasaran, produksi, keuangan dan seterusnya. Jadi antara kegiatan produksi dan pemasaran terspisah dalam kegiatan yang berbeda. Tetapi tidaklah demikian dengan perbankan antara kegiatan produksi dan pemasaran tersebut. Berjalan serentak karena produksinya berupa jasa yang tidak dapat disimpan. Jadi kalau tidak ada transaksi jual beli, jasa bank juga tidak ada produksi.
a.       Anggaran Dana Bank
Agar bank dapat bekerja secara efesien dan bersaing dengan bank-bank lain, maka dana yang dikumpulkan tersebut harus direncanakan dengan baik jangan sampai mengalami over likuid, disamping itu biayanya pun perlu dianggarkan dengan baik sehingga akan diperoleh volume dan biaya dana yang baik.
b.      Anggaran Penanaman Dana Bank
Dalam perumusan pemilihan alternatif-alternatif ini tentu memerlukan analisis baik dengan menggunakan bebrbgai pendekatan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Secara garis besar penanaman dana bank berkisar pada sektor perkreditan, surat berharga dan perdagangan valuta asing.
c.       Anggaran Jasa Bank
1.      Jasa sesuatu bersifat abstrak
2.      Sulit diukur standar biayanya
3.      Ada trasaksi atau tidak, bank harus membayar biaya overhead
4.      Besar kecilnya transaksi tidak mempengaruhi struktur biaya operasi bank.
d.      Anggaran Sarana Kerja Bank
Untuk menunjang kegiatannya bank memerlukan
1.      Tenaga kerja, manajemen
2.      Perangkat lunak, sistem prosedur kerja, folmulir.
e.       Anggaran Pendapatan dan Biaya Bank
Segala upaya dicapai dalam pengelolaan dana, penanaman dana, pengelolaan jasa-jasa perbankan, pengelolaan sarana kerja bank tersebut akhirnya harus tetap diukur berapa pendapatan yang diperoleh serta berapa biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain manajemen bank perlu mengetahui berapa biaya yang diperlukan dimasa yang akan datang.

C.     Dilema Penyusunan Anggaran
Ada dua macam dilema dalam penyusunan anggaran:
a.       Dilema Internal
Manajemen harus mampu memilih skala usaha yang menguntungkan ditinjau dari dua sudut kepentingan kegiatan tersebut. Sebagai misalnya apabila bank menanamkan sumber dananya ke sektor asset secara optimum, memang bank akan mampu bekerja dengan efektif, tidak ada sumber dana yang menganggur tetapi disisi lain tingkat likuiditas akan terancam dan ini tentu juga akan membahayakan bagi bank.
b.      Dilema Eksternal
Setiap bank didalam melaksanakan kegiatan usahanya banyak harus senantiasa memperhatikan kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku dimasyarakat, baik masyarakat regional, nasional, dan internasional. Oleh karena itu ketentuan mengenai Capital Eduquacy, Ratio, Legal Reserve, Maximum Lending Limit, dan lain-lain harus ditaati sepenuhnya tanpa pengecualian. Dengan demikian ambisi suatu bank harus juga memperhatikan norma-norma yang berlaku dimasyarakat.


Disadur dari Buku Bank Budgeting Teguh Pudjo Muljono

Selasa, 25 Juni 2013

Persaudaraan Gembel

Gludukk... Gludukk... Blarrrrr....
Suara petir semakin membuat suasana mencekam, langit seperti ingin menumpahkan semua isinya lewat rintikan hujan. Aku masih berkumpul bersama teman-temanku. Muka kumal dan pucat menghiasi wajah mereka, aku tidak heran, sejak pagi kami telah banyak bekerja mengikuti kemauan bang Andreas, Boss dari perkumpulan gembel-gembel tempatku berada. Aku merasa paling menderita diantara teman-temanku. Posturku yang kecil ini diharuskan mengemis, mengumpulkan recehan dari orang-orang yang iba melihatku. 
Aku merasa jadi orang paling apes di dunia ini, terlahir dari keluarga miskin di desa yang kekurangan makan, membuatku harus kabur ke kota, melarikan diri dari jeratan kelaparan, tapi apa? tenyata sampai kota ini aku tetap kelaparan, bahkan menjadi sampah masyarakat. Pernah ingin ku melamar pekerjaan untuk sekedar mengisi hari-hariku, tetap saja tidak ada yang mau menerima sampah sepertiku, yang sama sekali tidak punya gelar pendidikan, jangankan gelar sarjana, SD saja aku tak pernah merasakan, “aghhh,,,bedebah dengan pendidikan.” Hatiku marah. Sekarang aku masuk kedalam kandang gembel-gembel yang juga mengadu nasib di kota ini.
Disini, disebuah gedung tua yang tak terpakai lagi, aku menghabiskan hari-hariku, profesiku sebagai pengemis bukanlah mauku sepenuhnya. Bang Andreas sebagai boss di tempat ini mempunyai wewenang penuh mengatur profesi kami para gembel. Sebenarnya dulu aku memilih sebagai pengamen yang sedikit memiliki martabat, namun bang Andreas menolak mentah-mentah harapanku, dia bilang mukaku cocok sebagai pengemis. Karena dengan menjadi pengemis aku akan banyak menghasilkan uang ujarnya. Anjritt..!! gumamku saat itu.
“Ayo...ayo..ayo..siapkan alat-alat kalian buat kerja.” Suara bang Andreas membuyarkan lamunanku.
“Ayo nunggu apa lagi? Cepat bubar !!.” tambahnya lagi.
"Cung..!! berangkat loe.?"Sapa Bang Andreas 
"kemana?" Jawabku singkat
"Cari uanglah, dodol..!" Tukas Bang Andreas ketus.
Tak terasa air mataku mengalir. Nasibku sungguh tragis, hidup menggelandang sebagai pengemis di jalanan tanpa menikmati hasil dari mengemis sepenuhnya, karena sebagian harus disetor ke bang Andreas.
"Bang..aku laper.." Jawabku pelan.
"Makanya cari duit biar kamu dapat makan..!" Bentaknya.
"Tapi dari semalem perutku kosong."Balasku.
"Aghhh..tidak peduli, pokoknya kamu harus dapet duit klo mau makan..!" Bentaknya lagi. Bang Andreas pergi meninggalkanku. Jujur aku kesal dengan Bang Andreas. Udah jelek, gendut, sok ngatur pula. Pengen rasanya jitak kepalanya ! Huft.
“Gong..! ngemis bareng aku yuk?” Ajakku kepada Jigong, seniorku dikomunitas gembel ini.
“Ogahh Cung..!!  gue mau ngamen aja! Nggak bakat gue kalo ngemis! Hehe..” Tolak Jigong dengan senyum khasnya yang sangat menyebalkan.
“Huft.. ya sudahlah.” Desahku.
Beberapa temanku sudah beranjak mengais rezekinya siang ini.
“Kampret ujan deres lagi..!” Gerutuku saat akan turun ke jalan cari mangsa. 
Siang ini aku merasa sangat kesal, perutku belum diisi apa-apa dari pagi, tetap saja dipaksa mengemis di jalanan. “Ahhh... sial..sial...” gumamku kesal sambil menyambar kaleng tempat untuk mengumpulkan recehan. Karena hujan masih cukup deras, aku berjalan melewati emperan toko sambil menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Beberapa orang menaruh recehan dalam kalengku, tapi tak sedikit pula yang menatapku menghina, hatiku kecut.
“Oii..Cung kerja yang bener loe..!!” bentak bang Iwan, bawahan bang Andreas yang bertugas mengawasi komunitas gembel dalam mengumpulkan recehan.
“Ini udah bener bang..!!” jawabku tak kalah suara.
Jujur, aku merasa kesal dan iba kepadaku sendiri kepada rekan-rekanku sesama gembel. Dengan kondisi yang tertindas masih tetap saja diawasi ketika menjaring receh. Bang Andreas tidak sendiri menindas kami, laskarnya lumayan banyak dan punya tugas masing-masing. Ada yang bertugas membagi lokasi tempat kami ngamen dan ngemis, sampai ada juga yang tugasnya mengawasi gerak-gerik kami. Sungguh bikin naik darah, sebagai kaum marginal yang terpinggirkan dan tertindas, kami tak punya kekuatan yang cukup untuk melawan.
“Cung..!! dah dapet berapa loe?” bisik Lurik saat berpapasan denganku didepan toko sepatu.
“Baru goceng neh..” Jawabku pendek.
“Udah buruan..ditunggu bang Andreas di ujung sono tuh..!” Tambah Lurik sambil menunjukan jari kearah lampu merah, tempat bang Andreas nongkrong.
Jalanan Malioboro sesak dengan kendaraan berlalu-lalang, aku kadang merasa heran, hendak kemanakah mereka?. Kendaraan setiap hari hilir mudik tanpa jeda. Ahh..bukan urusanku, yang penting sekarang aku harus segera setor hasil mengemisku dan minta jatah makan. Perutku sudah sangat keroncogan, ditambah basah kuyup kehujanan sedari tadi membuat badanku semakin mengigil dan pucat. Kulihat beberapa temanku sesama gembel tengah mengais rezekinya masing-masing. Lotek si gembel cewek yang sedikit pemalu sedang menawarkan jasa suaranya yang pas-pasan kepada pembeli bakso, ngamen. Ada si Oblong dengan muka memelasnya sedang menengadahkan tangan di lampu merah, sama sepertiku mengemis. Sungguh menyedihkan.
Tak terasa hari sudah semakin beranjak sore, waktuku merapat kepada bang Andreas menyetor pendapatanku hari ini. Kulihat beberapa temanku sudah selesai tugas dan mendapat jatah makan. Aku tak perlu meminta jatah makan siang ini, tapi sewaktu mengemis ditukang ketupat tahu, aku mendapat makan bukan uang. Mungkin wajahku yang kumal dan pucat membuat bapak yang berjualan tidak tega, dan akhirnya memberiku seporsi ketupat tahu, sedapp.
“Sini Cung! Kumpulin duitnya jadi satu.” Ujar bang Andreas.
“Abis ini..kalian semua langsung pulang! Nanti abang mau ngomong masalah penting.” Tambah bang Andreas kepada kami semua yang duduk didekatnya.
“Iya bang..!!” Jawab kami serentak.
Segera kukemasi kaleng recehku, aku berjalan pulang ke tempat singgahku. Dalam perjalanan aku merenung panjang. Alangkah enaknya mereka para orang kaya, hidup enak, makan enak, tak perlu bersusah payah mengemis sepertiku. Terkadang dalam mengemis bukan receh yang ku dapat, melainkan makian dan hinaan. Hidup miskin dan tertindas menghiasi hari-hariku. Uang yang ku dapat dari hasil mengemis tak ku nikmati sepenuhnya. Adilkah hidup ini? Kadang aku menghujat tuhan. Kenapa aku yang miskin dan lemah tetap ditindas, sedangkan mereka orang kaya dapat melenggang bebas. Recehan yang ku kumpulkan masih harus dibagi-bagi. Kemanakah keadilan hidup!! Batinku memberontak.
Aku yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dan menikmati hidup dengan sekolah dan bermain bersama teman-teman, semua dirampas oleh hidup ini. Sebagai gantinya aku harus menggelandang meminta belas kasian, mengemis menggadaikan martabatku. Aku pun tak luput menghujat negaraku yang katanya makmur ini. Makmur, hahaha..aku sangat tidak setuju, mana buktinya? Anak-anak terlantar sepertiku, katanya menjadi tanggung jawab dan dalam perlindungan negara, bullshit..! negaraku pembohong, dan hanya makmur buat para koruptornya.
Batinku menjerit di jalanan, jiwaku memberontak dalam tindasan. Aku harus kuat, aku harus sabar. Jalanan memberikan sensasi hidup yang luar biasa. Makian orang hal biasa, sindiran menjadi menu wajib. Aku ingin bebas, aku ingin hidup dalam rumahan, tekad batinku.
“Ada apa Cung ?” tanya Oblong tiba-tiba membuyaran lamunanku.
“Nggak ada apa-apa kok.” Jawabku singkat.
“Udah buruan sini bang Andreas mau ngomong tuh!” tambahnya lagi.
“Hahh?” aku kaget, tidak sadar aku telah sampai tujuan.
Sekelilingku telah banyak yang duduk siap mendengarkan ceramah bang Andreas, diluar masih sedikit gerimis, langit rasanya belum puas menumpahkan apa yang dikandungnya. Badanku semakin menggigil karena belum sempat ganti pakaian.
“Ehemm.. Hari ini adalah hari terakhir kalian.” Bang Andreas membuka suara.
“Dan dengan ini, kalian resmi menjadi saudara kami.” Tambah bang Andreas sambil menyiramkan air bunga di atas kepala kami.
“Horee...” Seru kami semua.
“Ahhh..akhirnya selesai peranku.” Desahku lega.
Langit terlihat sedikit lebih cerah, walaupun badan terasa dingin, tapi aku lega. Batinku sembuh, aku bukanlah seorang pengemis, begitu pula teman-temanku sesama gembel. Mereka bukan pengamen dan juga pengemis. Kami hanya menjalani peran sebagai syarat diterima di organisasi teater di kampusku. Aku bersyukur punya kesempatan menjajal kehidupan jalanan. Perih hati mengingatnya, malu hati mengenangnya. Biarlah semua berlalu, menjadi kenangan untuk dapat kutulis sedikit cerita, sebuah persaudaraan gembel yang menjalani lakon dalam panggung sandiwara kehidupan jalanan.

Kulon Progo, 23 Juni 2013
In Memoriam Workshop P.T. Bening tahun 2011
Sedikit Flash Back untuk kalian keluargaku di sanggar Bening

Rabu, 05 Juni 2013

Aku ingin seperti Rabiah al Adawiyah

Akhir Mei 2013
Bulan ini aku kembali berulang tahun, bukan lagi ulang tahun untuk usia remajaku, namun lebih pantas disebut ulang tahun ibu-ibu, begitulah teman-temanku menyebutnya. Bagiku ulang tahun bukan hal yang istimewa, karena hari-hariku masih penuh dengan rutinitas yang selalu menyibukkanku. Walau ini ulang tahun yang merubah statusku menjadi orang berkepala tiga, aku masih tetap sendiri, belum ada pangeran yang mengisi hari-hari dalam hidupku. Kesibukanku sebagai guru disebuah madrasah diniyah membuatku merasa tidak kesepian, walau sebenarnya aku ingin segara menyempurnakan separuh agamaku. Pagi ini aku tidak ada jadwal untuk mengajar, membuatku enggan untuk meninggalkan kamar, seperti biasa setelah sholat subuh dan membaca dzikir matsurat, ku sempatkan untuk membaca novel, sebuah hobi yang mengasikkan bagiku. Ku ambil sebuah novel karya Habiburahman El Shirazy dari rak bukuku. Hemm..andaikan aku seperti Zahrana, gumamku, berharap memiliki nasib yang sama seperti tokoh pada cerita novel yang kubaca, sudah tiga kali aku menamatkan membaca novel ini, sebuah novel yang menceritakan seorang wanita yang hingga berumur kepala tiga belum juga menemukan jodohnya. Bukan tidak ada yang mau, melainkan belum ada yang dirasa cocok, berbagai macam cobaan dilalui oleh tokoh dalam novel ini, hingga akhirnya happy ending mendapatkan jodoh bekas muridnya sendiri.

 Tut..tut..tut.. tiba-tiba handphoneku berbunyi “assalamualaikum mbak Raysa” suara seorang wanita diseberang sana “waalaikumsalam” jawabku singkat “mbak ada di rumah kan? Aku mau main ke rumah mbak, sekarang.” sambung suara diseberang. Tut..tutt..suara telepon ditutup. Ihh..kebiasaan nih si Ahdah setiap nelpon pasti cuma sebentar dan asal nutup telepon gumamku sedikit kesal atas tingkah temanku. Ahdah teman akrabku, dia juga seorang pengajar di madrasah diniyah tempatku mengajar. Moodku membaca jadi hilang gara-gara ada telepon kilat yang menganggu. Sambil menunggu Ahdah datang akhirnya ku sempatkan untuk beres-beres kamar yang berantakan akibat semalam habis mengoreksi tugas anak-anak di sekolah. Setelah semua kuanggap beres aku duduk ditepi kasur lantaiku.

Tiba-tiba aku teringat pertanyaan bapakku beberapa waktu lalu. “Kamu mau nikah kapan Nduk?” Tanya bapakku saat itu. “Nanti pak kalau udah ada yang cocok” jawabku. “Lha..memang yang kamu anggap cocok itu seperti apa, selama ini yang datang ke rumah untuk serius sama kamu itu udah banyak, tapi kamu bilang belum cocok terus!” sambung bapakku seperti tidak mau mengalah. “Bapak sabar ya..Nanti kalau Raysa udah menemukan yang cocok, Raysa akan segera menikah.” Dengan sabar ku jawab pertanyaan beliau. “ ya sudah, jangan ditunda-tunda lagi.. kalau sudah ada yang cocok, segera nikah, ibu sudah pengen gendong cucu.” Sambung ibuku yang duduk disamping bapak. Itulah pertanyaan mereka setiap aku sempatkan pulang ke rumah, karena selama ini aku tinggal dalam komplek yayasan madrasah diniyah tempat aku mengajar. Selama ini aku merasa belum cocok dengan orang yang datang dengan maksud melamarku. Pernah suatu kali aku sudah merasa cocok, tapi teryata harus kandas karena tenyata memang Allah belum mengizinkan. Hemhh..ya Allah segera datangkan jodoh yang tepat untukku, desahku setiap ingat pertanyaan bapak yang menyinggungku untuk segera menikah. Tokk..tokk..tokk.. suara pintu diketuk. “Assalamualaikum Mbak.” Suara di balik pintu. “Walaikumsalam, masuk Dah, nggak dikunci pintunya” sahutku, karena ku tahu pasti itu Ahdah yang tadi bilang mau datang. “ Mbak ada undangan nikahannya Hanifah nih, minggu depan.” Kata Ahdah sambil menyodorkan kertas undangan kepadaku. “Sama siapa dia nikah.” tanyaku singkat. “Itu sam Rio temen sekelasnya dulu di kampus.” Jawab Ahdah “Oh ya Mbak..aku nggak bisa lama-lama ya, niatnya tadi mau main lama, tapi ibu pesen suruh belanja di pasar, jadi ya buru-buru, pulang ya mbak, assalamualaikum.” Sambung Ahdah. “ya udah nggak papa, walaikumsalam, ati-ati dijalan Dah” Jawabku “Iya mbak” sahutnya sambil ngeloyor pergi. Undangan lagi, undangan lagi, desahku kecil. Ini adalah undangan keduaku dibulan ini untuk menghadiri pernikahan temanku, malahan dua minggu yang lalu datang undangan pernikahan dari mantan muridku sendiri. Ku letakkan surat undangannya dan segera ku ambil wudhu untuk shalat duha karena memang hari sudah beranjak siang.

Juni 2013
Udara diluar terasa dingin, karena dari kemaren sore hujan mengguyur deras, sampai siang ini pun diluar masih rintik-rintik gerimis. Hari ini jadwal mengajarku penuh dari pagi hingga siang hari,padahal diakhir pekan, sungguh melelahkan dan rencananya sore nanti aku akan menghadiri undangan pernikahan Hanifah yang disampaikan Ahdah minggu lalu. Ku ambil handphoneku untuk melihat jam disana, ternyata ada satu SMS masuk yang belum sempat ku baca. 
“Nduk besok bisa pulang ya.., ada ikhwan yang mau datang kerumah untuk ta’aruf denganmu” bunyi SMS dari bapakku. Hahh..? ikhwan, pikiranku segera berputar untuk mengartikan kata tersebut, karena selama ini bapak tidak pernah mengirim pesan dengan menggunakan kata ikhwan, biasanya beliau hanya mengatakan ada orang akan datang kerumah, disetiap memberikahuku, jika ada orang yang berniat meminangku. Mungkin yang datang kali ini ustadz kali ya, hehe..pikirku singkat menyimpulkan kata ikhwan dalam pesan singkat dari bapak. “Insya Allah pak, besok pagi Raysa memang berencana untuk pulang” balasku singkat. Pagi ini dengan mengendarai motor matikku aku berangkat pulang kerumah yang berjarak sekitar dua jam dari yayasan madrasah tempatku mengajar selama ini. Tapi karena aku berniat untuk berbelanja, akhirnya aku mampir terlebih dahulu kepasar beli keperluan dan buah untuk dihidangkan kepada tamu yang akan datang nanti. Tidak terasa hampir tiga jam aku berputar-putar dipasar belanja ini itu, maklum bulan muda habis gajian.hehe.. setelah semua dirasa cukup, kuputuskan untuk pulang. 

Sesampainya didepan rumah, kulihat sebuah mobil jenis APV terparkir. Akhirnya aku masuk lewat pintu belakang dan kulihat bapak sedang ngobrol dengan tamu diruang depan. “Tamunya sudah datang to Bu?” tanyaku pada ibu yang sedang mengaduk the untuk tamu. “Belum lama Nduk, udah kamu siap-siap buat nemenin bapakmu didepan” jawab ibu “Iya bu, ini sekalian dibawa Bu..buah yang Raysa beli” sambungku. Segera aku masuk kamar untuk sedikit berdandan agar tidak terlihat kumal karena habis perjalanan jauh. Ku kenakan jilbab biru muda kesayanganku, dan segera ku temui tamu didepan karena memang bapak juga sudah terdengar memanggil. “Gimana Nduk pendapatmu?” Tanya bapak setelah aku diperkenalkan dengan tamu yang datang dan sedikit diceritakan kisah hidupnya. 
Akhirnya aku menemukan arti kata yang bapak maksud pada pesan singkatnya kemari. Namanya Ahmad Rifa’I, seorang dai muda yang cukup dikenal di daerah tempat aku tinggal, dai muda yang lumayan ganteng dan enerjik dalam menyampaikan dakwah-dakwah tentang keislaman, punya mobil pribadi, sudah punya rumah sendiri, dengan segala kelebihan yang ada padanya, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak, tapi tunggu dulu … ternyata dai ini telah memiliki seorang istri yang dinikahinya dua tahun yang lalu, namun belum dikaruniai anak. Dengan alasan ingin mengamalkan sunah rasul untuk beristri lebih dari satu, dia berniat meminangku dan menjadikanku istri keduanya, yang berarti aku adalah madu dari istri pertamanya. Walaupun dia mengatakan telah mendapat izin dari istri pertamanya. Dan aku sebagai wanita tahu, istri pertamanya mengizinkan suaminya untuk menikah lagi, karena merasa tidak bisa memberi anak, bukan karena benar-benar tulus ingin dimadu, karena istri manapun pasti cemburu jika melihat suaminya dekat dengan wanita lain. 

Duhh ya Rabb..kenapa kau berikan cobaan lagi untukku, kau datangkan orang yang telah memiliki istri untuk menjadi calon suamiku. Walaupun dia tahu akan hal agama, namun aku tak rela mempunyai suami yang memaduku, yang membagi kasih sayangnya untuk istri-istrinya yang lain, bukan hanya untukku. “Maaf pak aku tak bisa, aku tak rela menjadi madu” jawabku tegas. “Sebenarnya, mau kamu yang seperti apa Nduk !” hardik bapakku, ini kali pertama beliau terlihat marah karena aku menolak setiap lamaran orang yang datang ke rumahku. “Dicariin orang tua selalu ditolak ! disuruh nyari sendiri nggak becus, bapak malu banyak orang yang menganggap bapak orang yang gagal karena anak gadisnya jadi perawan tua..!” sambung bapak memarahiku. Aku hanya bisa menangis dan lari kekamar mengunci pintuku rapat-rapat. Masih sedikit kudengar tamu didapan pamit kepada bapak. “Sekarang terserah kamu Nduk mau nikah atau tidak, bapak udah capek!” suara bapak didepan pintu kamarku dan kemudian pergi. “sabar ya nduk, bapakmu lagi emosi, wiss..kamu yang tabah.” Hibur ibuku dari balik pintu. 

Sampai malam aku tetap dalam kamar, dan hanya keluar untuk mengambil wudhu, bujukan ibu untuk makan aku abaikan, karena semua terasa tidak enak bagiku. Air mataku kembali meleleh mengingat peristiwa tadi siang, karena baru sekali ini aku melihat bapak marah kepadaku, karena aku selalu menolak setiap calon yang diajukan kepadaku. Aku menolak bukan tanpa alasan, seingatku bapak telah delapan kali mengajukan calon kepadaku, antara lain: yang pertama Anto seorang asisten manajer suatu Bank besar yang mempunyai penghasilan tetap dan cukup besar, aku menolak karena aku tidak mau dinafkahi suami yang kerja di Bank dengan mendapat gaji dari bunga-bunga Bank yang dibebankan kepada nasabah. Aku tidak mau dalam tubuhku mengalir darah makanan dari hasil riba. Kemudian Jaka seorang pegawai negri yang telah hidup mapan, namun aku menolaknya karena menurut temanku dia sering gonta-ganti pacar. Dan masih banyak lagi calon yang diajukan bapak dan selalu ku tolak dengan alasan yang selalu beliau terima, sampai yang terakhir datang, Ahmad Rifa’I seorang dai yang kutolak dengan alasan aku tak ingin dimadu. 

Ya Rabb apakah aku salah menolak setiap calon yang datang kepadaku? Apakah aku salah jika aku mengharap jodoh yang benar-benar ada dijalan-Mu tanpa ada pihak yang merasa sakit diduakan?. Doa panjangku dalam sujud tahajud. Aku teringat seorang ahli sufi Rabiah al Adawiyah, seorang wanita yang agung, hamba Allah yang menghabiskan waktu hidupnya untuk menyembah dan bersujud kepada-Mu, tanpa harus berhadapan dengan urusan remeh-temeh masalah jodoh. Aku memang merindukan seorang suami untuk menyempurnakan separuh dari agamaku, tapi aku juga ingin jodoh itu sebagai rahmat bagiku bukan musibah yang membawaku kedalam api neraka. 
Aku ingin agamaku sempurna seperti Rabiah al Adawiyah yang menghabiskan waktu untuk beribadah dan menyembah kebesaran-Mu. Malam ini ku azzamkan diriku sebagai hamba-Mu untuk menjadi seperti Rabiah al Adawiyah. Pagi harinya aku meminta maaf kepada bapak dan pamit untuk kembali ke yayasan tempat aku mengajar, beliau tampak acuh dan tidak peduli, setelah mengucapkan salam dan mencium tangan kedua orang tuaku, mereka mengantarku sampai depan rumah, aku segera menuju motorku dan menstarter, ketika belok dari halaman rumah, aku lupa tidak tengok kanan kiri saat masuk ke jalan. Tiba-tiba bayangan hitam berkelebat dan BRakkkk….menghantam motorku, mataku terasa kunang-kunang, masih sedikit ku dengar suara teriakan orang tuaku,” Nduk….!!” Semua terasa putih, aku masih sempat tersenyum, mungkin ini nafas terakhirku, dan aku merasa seperti Rabiah yang tak memiliki seorang suami sampai nafas terakhir berhembus.

Yogyakarta, 03 Juni 2013, 
di bawah naungan gerimis

Kamis, 30 Mei 2013

Grenade by Fatin

Selamat pagi Guys.. Pagi ini gue dapet pencerahan dari lagunya Grenade Bruno Mars, tapi bukan sang musisi yang bawain lagu ini. melainkan Fatin Shidqia Lubis, pemenang ajang X Factor 2013. lagu ini dia nyanyikan saat awal di panggung X factor, siapa sangka lewat lagu ini, mengantarkan Fatin menjadi Juara ajang menyanyi yang bergengsi ini. lewat suara emas Fatin dengan perpaduan tingkah yang masih malu-malu, membuat suasana semakin asyik dan nggemesin. sebenernya gue bukan termasuk pendukung fanatik Fatin, gue cuma kagum ajah, hehe.. dengan suara emasnya, satu lagi..Fatin itu klo diliatin, anaknya imut, makin lama makin bikin kangen yah, hahaha..(kidding).. dan jangan salah, lagu ini juga bisa membuat efek relaksasi buat para pendengarnya.

oke..tanpa basa-basi lagi, silahkan nikmati lagu Grenade yang dinyanyiin Fatin, tapi jangan lupa buat Pause dulu soundtrack musik di blog ini, biar suaranya nggak tabrakan, caranya liat paling bawah halaman blog ini truz ada gambar logo musik yang lagi play, silahkan pause..

Minggu, 26 Mei 2013

Dilema Hari Minggu di Jogja

 
Udah dua hari ini gue libur kuliah, kemaren hari sabtu libur tanggal merah, sekarang hari minggu juga libur. sebagai mahasiswa teladan, gue termasuk mahasiswa yang suka hari libur daripada kuliah, karena bagi gue kuliah itu sangat membosankan, gak asik, cuma ngdengerin dosen pidato didepan kelas, atau jadi audience temen-temen yang lagi dapet tugas presentasi, atau hal-hal lain yang menurut gue gak selalu penting. itu yang jadi alesan gue buat suka hari libur, hari libur itu bagi gue adalah hari kemerdekaan selain tanggal 17 agustus, karna hari libur, semua orang khususnya gue bisa bebas ngapain aja, bebas nglakuin apa aja, contohnya kegiatan gue setiap hari libur itu tidur sepuasnya atau tidur sepuasnya atau tidur sepuasnya, pokoknya itu deh yang berhubungan ama tidur, gue suka banget, hehe.. So I Love Sunday, karna bagi gue Sunday itu seperti Emalif, yang selalu ngangenin. hehe 

Seperti hari-hari minggu yang laen, gue nggak terlalu banyak kegiatan selain tidur, yang pasti nggak jauh-jauh dari kos. udah dua tahun ini gue hidup ditengah kota Jogja, dan setiap hari minggu pasti ada masalah yang bikin gue sering kesel selain masalah dompet yang mulai kosong. sebenernya cuma sederhana sih, gue setiapa hari minggu cuma ngerasa susah banget cari warung makan yang buka. bukan cuma warung makan yang tutup, semua yang berkaitan ama urusan jual beli, di hari minggu mereka ikut libur semua, jogja emang istimewa, di daerah lain, padahal banyak pedagang yang manfaatin hari minggu itu buat jualan, tapi Jogja beda, hari minggu itu malah pada libur, sebagai akibatnya ya gue jadi korban, setiap hari minggu menu makan nggak jauh dari yang namanya mie instan.

Hari minggu ini, seperti menu makan pagi gue setiap hari minggu, cuma sepiring nasi ama semangkuk mie goreng indomie, gue nggak perlu keluar kos buat nyari makan. karna udah gue pastiin yang buka cuma Burjo ama RM. Padang, menunya itu-itu aja, membosankan dan yang pastinya sedikit mahal ceh, hehe..dan ternyata dilema susah nyari makan ini bukan gue doank yang ngrasain. pagi ini adx gue bilang bingung mau makan apa, nggak ada yang buka selain Burjo ama Padang. hoho..kasian banget dy, bangun tidur dengan muka yang masih kucel, harus ngrasain dilema yang sama ama yang gue rasain..:p

Sebenernya banyak tempat makan di Jogja yang tetep buka di hari minggu, terutama hari minggu pagi. tapi masalahnya tempat makan itu nggak cocok ama konsep dompet anak kos-kosan, semuanya lesehan atau semi lesehan, menunya semua enak yang pasti harganya juga sesuai ama rasa. nah bagi anak kos klo harus makan ditempat kayak gitu bisa dipastikan sedikit mikir atau nggak ya itung-itung lah. sedangkan warung makan murah lainnya tutup. makanya anak kos yang notabenenya sebagai perantau yang nggak bergelimang duit ngambil kesimpulan, klo Jogja itu kota yang susah buat nyari makan murah di hari minggu. sebuah dilema yang unik ditengah kota Jogja yang Istimewa.

Salam Maple ^_^

Rabu, 22 Mei 2013

Syndrome Nomophobia

Salam Maple Guys... setelah beberapa hari vakum posting, karna yang jelas gue lagi galau, galau tingkat dukuh. setelah galau, mulai ada yang mengusik pikiran bawah sadar gue, dan ternyata nggak cuma gue yang terusik, tapi banyak orang, namun nggak pada sadar. dan gue merasa beruntung karena termasuk orang-orang yang sadar itu, hehe..oke cukup dulu prolognya, langsung ke pokok permasalahan.


Hari gini siapa yang nggak punya Hape/telepon genggam/hanphone, atau ntah apa nama lainnya. yang pasti antara sadar atau nggak, kemajuan teknologi selalu dibarengi dengan kemunduran kesehatan, ntah itu kesehatan fisik maupun kesehatan mental. dan baru-baru ini yang masih santer beredar di berbagai media massa, adalah jenis penyakit baru para pengguna Hp. namanya "Syndrome Nomophobia" sebuah penyakit unik, yaitu penyakit rasa takut apabila jauh dari Hp, akan cemas jika nggak megang Hp, atau stress jika Hpnya hilang. Nomophobia merupakan singkatan dari No Mobile Phone Phobia, yang artinya Phobia atau takut jika jauh dari Handphone. ada yang merasa? hati-hati..!!!

Penyakit ini tidak memandang gender, umur, kelas sosial atau yang lainnya. penyakit ini rahmatan lil alamin, untuk semua alam yang merasa punya atau memegang Hp, hehe..dan menurut sebuah survei yang di adakan oleh SecurEnvoy yang dimuat dalam kabar24.com, menyebutkan bahwa terdapat 66% orang pengguna Hp
yang merupakan Nomophobic atau pengidap sindrom ini. dan diantara tanda-tanda Nomophobic ini adalah:

1. Tidur Bareng Hp
Nomophobic adalah orang yang tidak bisa tidur tanpa meletakkan ponsel di bawah atau sebelah bantal.

2. Mimpi Hp Hilang
Nomophobic sering mendapat mimpi buruk kehilangan ponsel, lalu terbangun panik demi memastikan Hpnya masih ada

3. Membawa Hp ke kamar Mandi
ini tanda-tanda akut, sampai ke kamar mandi pun Nomopobic nggak lepas dari Hp, bahkan mandi atau buang air pun sambil sms.an. hayoo ngaku..!!

4. Punya Dua Hp atau Lebih
sebenernya satu Hp pun cukup, tapi klo punya Hp lebih dari satu dan panik jika nggak dipegang semua, itu sindrome.

5. Bad Mood saat Lowbatt
sering ngambek atau uring-uringan saat Hp Lowbat, bahkan menjadi depresi dan kesal karena panik ponselnya akan kehabisan baterai.

Kenapa penyakit ini menjadi sorotan media? walaupun sepertinya biasa saja dan terlihat wajar, namun sebenernya penyakit ini termasuk Akut Syndrome. bayangkan orang yang kaget akan terpicu penyakit jantung yang mematikan. orang yang panik akan menjadi gila, menakutkan..
so Waspadalah.. Waspadalah...
Tips mudah untuk menghindari sindrom ini adalah kembali ke era Surat, tulis pake tangan dikertas, kirim lewat pos, selain punya kelebihan, yaitu tulisan jadi bagus dan yang pasti aman dari penyakit Sindrom Nomophobia ini Guys..^_^